Beranjak ke usia 26, pernikahan adalah topik yang sangat HOT. Waktu saya menuliskan HOT, itu berarti HOT memang... Disetiap kesempatan selalu, selalu dan selalu dan selaluuuu tidak pernah ketinggalan topik ini dalam setiap ajang diskusi. Jika 2 atau 3 orang berkumpul, pernikahan adalah topiknya. Capeee dehhhh...
Pembawaan saya yang rada tomboy (baca Preman), tampaknya mengusik rasa ingin tahu yang cukup dalam dari teman-teman terdekat saya. Jadi dikesempatan kali ini saya bagi aku dan pikiranku tentang pernikahan. Saya mungkin orang yang tidak terlalu menunjukkan perasaan, tapi ini bukan berarti saya tidak berperasaan. Bukan berarti saya tidak punya mimpi dan bukan berarti saya tidak mau menikah. Masalahnya mungkin soal waktu.. jadi kalo ada yang nanya : kenapa belum menikah hen? jawabannya so simple "Belum ada yang lamar.!!" Jadi HENTIKAN tatapan mata yang seolah MENGHAKIMI saya tidak normal. Grrrrr.
Saya ingin menikah di gereja bengkulu. Gereja ini memiliki arti tersendiri buat saya. Saya dibabtis menjadi kristen ketika masih bayi digereja ini, saya tardidi (sah menjadi anggota gereja) di gereja ini dsb. Dan saya juga ingin sekali menikah di gereja ini, Gereja HKBP Jitra Bengkulu. Soal resepsinya terserahlah. Oh yah, soal resepsi saya agak susah membayangkan karena berarti banyak orang dan identik dengan repot. Sedangkan saya BENCI kerepotan, so saya hanya membayangkan peresmiannya saja. *nyengir (berarti adat adat juga diluar angan2 saya). Mungkin gambaran dekorasi ruangannya seperti terlihat di atas kali yah. hehehe
Gaun pernikahan. Okeyyy.. sebagai informasi saya suka Kebaya. Tapi suka dan memakai adalah 2 hal yang berbeda. Saya rasa saya bukan tipe wanita yang mampu mengenakan kebaya dan segala pernak perniknya. Oh god... rasanya Henny dan Konde bukanlah perpaduan yang serasi. Wkwkwkwk. bayangan saya mengenai gaun pernikahan mungkin seperti ini (*khayalan tidak berbanding lurus dengan kesadaran akan bentuk tubuh yah.. wkwkwk).
Undangan pernikahan saya suka yang simple. Mungkin bentuknya seperti ini. heheheh. Wew.. mendadak kok saya dag dig dug yah. rasanya seperti akan menikah betulan. hahaha
Cincin nikah. Katanya cincin nikah ga boleh ada matanya. harus polos biar langgeng. terserahlah. Tapi kalo sesuai angan-angan saya sih saya pengennya yang begini. heheheh.
Calon suami. Hmmmmm.. Ini dia bagian paling penting. Saya suka pria minimal diatas saya 3 tahun. Suku sebenarnya ga masalah, tapi saya HARUS menikah dengan orang batak. Saya suka orang batak dan saya cinta batak. Saya suka pria yang cerdas dan pekerja keras. Semakin membingungkan semakin bagus. Saya suka laki-laki yang pendiam dan serius, sedikit pemalu dan kuper mungkin. Tinggi kurang lebih 170an lah, soalnya saya kan pendek. wkwkw. Saya suka pria-pria sedikit berisi. Btw, Saya juga mengagumi pria-pria bangun pagi dan tidur larut malam. Saya suka dengan laki-laki yang bisa bawa kendaraan dan tidak habis pikir dengan laki-laki yang tidak bisa membawa satu pun. Soal harta dan kekayaan, bah saya lebih suka segalanya dikumpulkan secara bersama-sama. Kristen itu pasti, karena agak susah berpijak diatas 2 kapal. Saya suka pria yang tegas, tahu apa yang dia inginkan dan mampu membuat saya tunduk dengan cara halus.
Well.. saya pikir segitu dululah yah. Oh yah saya suka menikah di hari ulang tahun saya. So, 17 November 2010 kayaknya boleh juga. haha
gambar diambil dari sini :
http://gambar.iklanmax.com/20081211/195643/jasa-buat-pola-dan-jasa-pembuatan-gaun.jpg
https://angeleyes-emporium.com/images/ETTR001y.jpg
http://feelfreetoexpress.files.wordpress.com/2009/09/church-decoration-31.jpg
http://id.media2.88db.com/DB88UploadFiles/2008/02/15/8D3BD2C0-8A15-4B5D-BEC2-7DE437D2C23C.jpg
Saat saya menuliskan ini perutku masih melilit karena keracunan makanan yang menyebabkan diare sekaligus menghajar maagku selama 4 hari. Selama terbaring sakit, otakku tak bisa berhenti berpikir. Jujur saja, 3 bulan terakhir nama tengahku adalah “reuni” saking banyaknya reuni-reuni yang kuikuti. Bahkan ada yang beberapa kali reuni dari 1 komunitas dalam rentang waktu yg cukup dekat.
Pertama-tama saya tidak menyadari kejanggalan dari suatu reuni. Namun karena kejadiannya berulang-ulang maka otakku ini tidak bisa lagi diajak kompromi untuk berhenti mengamati dan menganalisa. Ada yang janggal, ada yang tidak sreg disetiap reuni. Selalu saja saya hanya bertemu orang-orang yang cukup penghasilan untuk membiayai dirinya atau dalam tanda kutip “sukses”. Diantara mereka ada yang menjadi reporter, kerja di kantor kementerian, ada yang sudah menduduki posisi manager, ada yang menjadi owner, team leader di suatu perusahaan IT, istri seorang pejabat, bekerja di perkebunan, kontraktor dan banyak lagi. Tapi tak jarang dari reuni-reuni itu pula lah mengalir cerita-cerita tragis tentang seorang teman.
Sebut saja seorang teman wanita saya teman bermain karet (tali/ ye-ye) yang beberapa tahun kemudian sangat memillukan hati saya karena dia mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan insektisida. Diusia yang masih sangat belia saya tidak begitu memahami, hanya terkejut saja dan menyimpan peristiwa tersebut dalam hati. Sekarang disini di tahun 2009 kenangan itu terangkai kembali.
Siapa menyangka teman saya bermain tali meninggal secara mengenaskan, teman yang duduk di belakang bangku saya dipenjara, teman bergosip saya melahirkan tanpa ayah, ada yang menjadi buruh dengan upah sangat kecil untuk menghidupi keluarganya sehingga untuk membeli batagor seharga Rp 5.000,- pun dia tidak sanggup, bahkan ada yang saya masukkan dalam kategori melarat padahal jelas-jelas dia dulu adalah anak pejabat. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah saya temui dalam reuni-reuni saya. Padahal mereka juga mewarnai kisah indah masa kecil saya. Anak kecil dengan banyak mimpi, tawa yang lepas dan belum mengerti tajamnya duri kehidupan.
Rasanya tidak mungkin pria yang sangat lucu itu bisa melukai orang lain, keadaan apa yang menyebabkan temanku memutuskan mencuri di suatu toserba, peristiwa apa yang membuat sahabatku mencoba narkoba, apa yang dirasakan temanku ketika harus melahirkan tanpa ayah, dan bagaimana sakitnya sahabatku ketika malam pertama dibalik jeruji besi dsb. Dibalik tubuh yang berusia 26 tahun ini mungkin dalam diri mereka masih terperangkap jiwa anak berusia 8 tahun yang ketakutan menjadi dewasa dan dihajar habis-habisan oleh kenyataan hidup.
Melihat mereka, Saya terluka…
bersambung..
Gambar diambil dari sini