Hadapi dengan Senyuman...
Salah satu buku yang pernah saya baca mengatakan bahwa : Tidak ada kritik yang membangun, semua kritik menjatuhkan. Pujian akan jauh lebih menunjukkan hasil. Buku ini sekaligus menjadi titik balik dalam hidup saya dalam usaha saya untuk menghargai hasil kerja orang lain apapun hasilnya.
Saya lahir dan besar dalam salah satu kebudayaan yang kental. kebudayaan yang keras dalam mendidik anak-anaknya untuk menghargai leluhur, orang tua, besan dll. Budaya yang juga mengajarkan bahwa katakan YA bila YA dan katakan TIDAK bila TIDAK, tapi jangan bicara yang tidak-tidak. Efek Positifnya, kami dikenal suku yang TEGUH dalam pendirian, tidak plin plan bahkan cenderung keras. Permasalahannya adalah, bagaimana berkata TIDAK dikala orang banyak berkata YA? dan bagaimana mengatakan TIDAK tanpa menyakiti orang-orang yang berkata YA?
PERSEPSI adalah 1 masalah besar yang menentukan sikap seseorang saat menghadapi masalah. ini adalah hal yang DIKETAHUI banyak orang, tapi tidak DIPAHAMI. PERSEPSI dipengaruhi oleh faktor budaya, pengetahuan, umur dll. Jadi amatlah mustahil jika mampu menyeragamkan persepsi. Wong orang latar belakangnya berbeda-beda kok. Tapi MENGAPA banyak orang ingin memaksakan pendapatnya karena menganggap yang paling baik?
Menjadi seorang pemimpin adalah pekerjaan yang sangat sulit. Jika dia memimpin 100 orang, maka dia pun harus menghadapi 100 kepala, dan juga berarti 100 PERSEPSI. Tidak mudah untuk menyatukan persepsi dan tidak ada gunanya menyeragamkan persepsi, itu adalah pekerjaan sia-sia. Tapi bagaimana membuat persepsi yang berbeda-beda menjadi 1 kekuatan, itu yang harus dipelajari.
Saya ambil contoh saja, ketika TUHAN YESUS hadir pada saat seorang PELACUR akan dilempari batu dan berkata (intinya saja yah..karena nda hapal aku) siapa yang merasa tidak berdosa boleh melempar (batu) duluan. Dan pada akhirnya tidak ada yang melempar batu. Kami kaum Nasrani dididik kesimpulan dari cerita ini adalah KASIH TUHAN YESUS yang tidak menghakimi meskipun wanita itu adalah seorang pelacur. Apakah semua nya berpikir hal yang sama? mungkin tidak hal ini berarti YESUS melegalkan pelacuran? Salah kalo saya berpikir begitu? Tentu saja tidak, selama saya tidak menyuarakan pendapat saya ditengah kebaktian minggu. Berteriak dengan sura lantang ditengah-tengah ibadah pada saat pendeta sedang memberikan khotbah misalnya. Selama saya hanya mengutarakan pikiran saya di tempat yang tepat, misalnya diskusi antar sepupu yah ga masalah...
Ini adalah INTINYA. Berbeda persepsi adalah hal yang wajar. Tapi menyuarakan persepsi itu ada aturannya. Lihat siapa yang harus kita hadapi. Apakah teman, pimpinan, jemaat atau kelompok. Kita tidak dilarang untuk berbeda pendapat, tapi kita dilarang untuk membuat rusuh karena ada hukum yang berlaku. Jika anda ingin menyampaikan persepsi yang berbeda, sampaikan dengan hormat. Gunakan cara-cara yang simpatik dan hargai jabatan orang lain. Seorang pimpinan tidak bisa hanya memuaskan sekelompok orang. Karena PUAS adalah masalah emosi yang tidak bisa diukur. Tapi seorang pimpinan harus mengambil keputusan berdasarkan bukti dan fakta. Tidak bisa jika seorang dipecat karena si A tidak suka. Atau gosip yang beredar si A begini atau begitu. Buktinya mana..?Dan orang tidak mungkin dipecat hanya berdasarkan PERSEPSI. Misalnya jika si A dan si B dinyatakan menikah, yah karena ada saksi nikah nya atau pun karena ada surat nikahnya. Bukan karena PERSEPSI si A dan B pasti sudah nikah karena "kulihat gandeng-gandengan aja sepanjang hari macam kutu." Apaaa ini!! See..??
Jangan bicara KASIH untuk orang yang nun jauh disana. Jangan dulu bicara soal sembako yang mau dibagi-bagikan untuk orang asing di bawah jembatan sana, jika orang disekeliling kamu, kamu terlantarkan. Saya kecewa karena orang yang berpendidikan menunjukkan cara yang tidak simpatik dalam menunjukkan perbedaan pendapat. Ada caranya kita memperlakukan orang tua, kakek, nenek, apalagi seorang PENDETA. Ini bukan gereja milik saya atau anda. Ini Gereja milik TUHAN. Jadi apabila ada masukan, kritikan dsb gunakanlah cara-cara yang wajar. Karena bagaimana pun itu bukan MILIK PRIBADI. Jangan menyuarakan atas nama semua orang jika itu hanya pendapat anda sendiri atau segelintir orang. Dan senyuman yang tulus jauh lebih menunjukkan hasil daripada sms yang tidak jelas atau pun surat-surat berisi kritikan yang menyakitkan hati.
Satu hal yang harus diyakini, tidak ada seorang pun yang lahir karena ketersia-sia an. Semuanya sudah menjadi bagian dalam RENCANA TUHAN. SETUJU atau TIDAK SETUJU dalam 1 hal, SUKA atau pun TIDAK SUKA, semuanya adalah masalah persepsi. Tapi saya yakin kita semua cukup dewasa untuk mengungkapkan perbedaan pemikiran kita.
Bagaimana dengan acara secangkir teh hangat, mengupas sebiji apel dan membaginya menjadi 5 potong agar semua bisa mencicip dan membahas soal perbedaan pendapat..??
Tapi sekali lagi, tidak semua orang tua cukup dewasa. Dan mungkin bagi sebagian orang mengirim sms atau surat kritikan tanpa pengirim menunjukkan kedewasaan daripada secangkir teh hangat. Toh pada akhirnya..saya pun tidak bisa memaksakan persepsi saya soal KEDEWASAAN...
Gambar diambil dari sini